Sampah

Jiwa yang sudah menjelma seperti sampah.

Sampah. Itulah aku.

Kau tak percaya? Ataukah kau tak peduli?

Aku sekarang menjadi sampah.

Berserakan tak tahu arah, usang, tak terawat.

Aku hancur.

Bahkan aku diinjak-injak oleh manusia yang berbahagia diatasku.

Aku hancur.

Rasa sakitku sekarang membuatku berubah menjadi sampah yang tak berguna; untuk kau.

Ya.

Sebentar lagi, aku akan lenyap. Lenyap dimakan waktu. Aku tak terawat. Aku tertinjak. Aku; terbuang.

Advertisements

Maaf, aku harus pergi

Maaf. Mungkin ini keputusan terbaik.

Malam terasa sepi. Tidak ada perbincangan apapun, tidak ada kisah. Aku sudah tidak ingin mengganggu hidupmu; lagi.

Maaf, aku harus pergi. Maaf jika kehadiranku selama ini membuatmu merasa tak nyaman. Maaf jika aku selalu membuatmu merasa terganggu. Maaf.

Semua ini terjadi karena kita.

Kita berdua yang membuat kisah ini, tanpa ada campur tangan oranglain. Namun saat ini keadaan yang sudah tak ingin kita bersama. Kita memang sudah tak sejalan. Suatu saat kau paham mengapa aku harus pergi.


Mungkin sekarang kau mengira diriku baik-baik saja. Satu hal yang harus kau tahu; aku hancur.

Melebihi rasa hancur. Aku sudah merasa tidak menjelma sebagai manusia. Hampa.

Apakah menurut kau baik-baik saja jika seseorang meninggalkan orang yang dicintainya? Aku selalu melihat bayangan orang yang ku tinggalkan.

Ya Tuhan, terbesit dipikiranku, “apa gunanya lagi aku hidup?”

Ya. Aku hampir menyerah.

Tapi, ini adalah jalan yang harus kita lewati. Aku sadar akan hal itu.

Namun perlu waktu yang lama agar aku bisa mengampuni diriku sendiri, karena aku harus pergi.

Semoga hidupmu selalu berbahagia. Percayalah, walaupun kita sudah tak bersama, rasaku selalu ada; untukmu.

Adakah kesempatan kedua?

Sekarang aku sadar, yang mengakhiri kisah ini; adalah aku.

Penyesalan. Ini yang sekarang aku rasakan. Ya, yang mengakhiri kisah ini adalah aku.

Maaf, aku yang tak bisa memahami perasaanmu dahulu. Aku yang egois. Aku yang tak tahu menahu. Aku yang tak pernah hiraukan semuanya. Tapi aku sadar, waktu tak bisa diputar kembali.

Kesempatan kedua yang tak pernah ada.

Terimakasih, kau pernah membawa kebaikan dalam hidupku.

Biarkan aku mendapat siksaan penyesalan ini.

Dalam penantian ini, aku akan menunggumu. Baik-baiklah disana, setiap doa ku selalu tersebut namamu.

“seribu kata maaf,

tak pernah bisa membuatmu kembali.”

Kekasih bayangan

kau selalu terbayang dalam ingatanku

tapi.. apakah aku pernah tebayang dalam ingatanmu?

Entah kenapa.. disaat waktu terus berjalan, kau selalu hadir dalam ingatanku. Kau memiliki kehidupan lain; yang lebih bahagia, aku tahu itu. Tapi, apakah kau sadar? Aku disini sedang merindukanmu. Aku selalu menantimu disini, agar kau hadir disaat aku merindukanmu.

Namun nyatanya? Kau tak pernah datang. Aku merindukanmu yang dulu, yang selalu ada disaat aku sedang kesepian, disaat aku memerlukan teman bicara.

Bertahun-tahun aku menanti semua ini, namun tak pernah sampai pada titik akhir. Biarlah waktu yang menjawabnya..

Kau, dimana?

Waktu

“Kamu apa kabar?”

Ya. Disini aku baik-baik saja. Semenjak kisah itu berakhir, kau kembali menghubungiku. semenjak empat tahun yang lalu.

Kita saling tanya kabar melalui media sosial. Sejenak aku berpikir, apakah kau akan kembali seperti dulu? Seperti seorang yang pernah ku kenal? Atau hanya sekedar untuk menanyakan kabar saja? Aku tidak tahu. Aku tidak bisa menghindar dari takdir, bahwa kau sudah memang tidak lagi untukku.

Kau bukan seperti mereka yang aku kenal.

Kau yang mengajariku cara untuk menggenggam tanpa harus memaksa.

Kau yang selalu mendengarkan keluh kesahku.

Kau yang bisa memahami sifatku.

Kau yang menerima segala kekuranganku.

Kau juga yang mengajariku tentang cara untuk menerima kesederhanaan.

Banyak dari teman-temanku yang ingin agar aku melupakanmu. Tapi nyatanya, aku tidak bisa. Kau selalu ada dalam pikiranku, dikala hujan, disaat aku mendengarkan musik, kau selalu ada.

Kau kembali, hari ini.

Kau baik dan menyenangkan, selalu. Mungkin, kau sudah hidup bahagia disana. Kita sudah lama tidak bertemu. Kau pun mungkin sudah memiliki seseorang yang ada disampingmu saat ini. Aku tidak tahu.

Namun satu hal yang harus kau ingat, aku selalu ada untukmu; di sini. Suatu saat nanti, biarlah waktu yang menjawab; seberapa kuatnya aku menunggumu.

pernah?

pernahkah kau berpikir ada seseorang jauh dari sana yang sedang merindukanmu?

Dan, seseorang itu aku.

Pernahkah kau seperti yang ku katakan tadi? Mungkin tidak. Maaf, karena aku sering merindukanmu. Melebihi rasa rindu yang biasanya. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kamu bahagia di sana. Sedangkan aku?

Aku terbunuh dengan siksaan rindu yang tak kunjung berhenti.

Teringat kisah kita dulu, yang berakhir tanpa penjelasan yang jelas.

Lenyap begitu saja.

Hai, aku di sini hanya bisa mendoakanmu;

dari kejauhan.

Kau, masih sama

semoga selalu seperti ini, sampai nanti.

Hari berlalu, telah beberapa minggu kita melewati masa-masa ini. Kau tetap sama. Candamu selalu membuat hari terasa beda. Melewati segala hal dengan hati yang damai. Diiringi dengan setiap kisah, keluh kesah kita, namun yang tak pernah terlewatkan ialah memberikan solusi untuk hal itu.

Aku selalu berdoa, sampai nanti, kita akan selalu seperti ini. Berdua. Kau bukan seperti lelaki lain yang ku kenal. Kau, adalah seorang yang berbeda. Kau memiliki kepribadian yang sederhana. Kau tak pernah memberikan kepadaku perhatian yang lebih. Tak pernah bertanya “Sudah makan?” atau “Sedang apa?”. Namun kau memberikan perhatian kepadaku dengan cara yang berbeda. Tanpa mengartikan itu adalah sebuah bentuk perhatian.

Kau memiliki hobi yang sama denganku. Menyukai hal yang berbau musik, kebiasaan nonton film, mengapresiasi tentang karya orang lain, itu adalah hal yang sering kita lakukan. Karena itu, kita mudah untuk bergiringan melewati hari dari waktu ke waktu.

Terimakasih. Aku beruntung, memilikimu saat ini. Semua terasa damai. Aku selalu berharap, kau akan selalu seperti ini, atau bahkan mungkin lebih baik, sampai nanti.